Hawa Nafsu dalam Alquran
dan Hadis
HADIS
Diriwayatkan dari Imam Al-Baqir bahwa Rasulullah SAWW bersabda, Allah SWT
berfirman: "Demi kemuliaan-Ku, kebesaran-Ku, keagungan-Ku, keperkasaan-Ku,
nur-Ku, ketinggian-Ku dan ketinggian tempat-Ku, tak seorang hambapun yang
mengutamakan keinginannya (nafsunya) di atas keinginan-Ku, melainkan Aku
kacaukan urusannya, Aku kaburkan dunianya dan Aku sibukkan hatinya dengan dunia
serta tidak Aku berikan diinia kecuali yang telah kutakar untuknya.
Demi kemulian-Ku, kebesaran-Ku, keagungan-Ku, keperkasaan-Ku, nur-Ku,
ketinggian-Ku dan ketinggian tempat-Ku, tak seorang hambapun yang mengutamakan
keinginan-Ku di atas keinginan (nafsu) dirinya melainkan Aku suruh malaikat
untuk menjaganya, langit dan bumi menjamin rezekinya dan menguntungkan setiap
perdagangan yang dilakukannya serta dunia akan datang dan selalu berpihak
kepadanya".[3]
Hadis qudsi cliatas amat populer dan terdapat dalam beberapa kitab dari
golongan Sunnah dan Syi'ah. Saya juga meriwayatkan hadis tersebut melalui
beberapa jalur. Sebagiannya darinya saya anggap sahih. Saya mencoba menelaah
hadis yang berharga ini pada tiga bagian:
Pertama, seputar definisi hawa nafsu (al-hawa), bagian-bagian aksidentalnya,
metode terapi dan "penjinaan"-nya. Bagian ini dianggap sebagai
pengantar kajian hadis tersebut. (Bagian ini kami bagi menjadi tiga bagian
menjadi I. Hawa Nafsu clalam Al-Quran dan Hadis, II. Tugas Akal dalam
Mengendalikan Hawa Nafsu, III. Telaah Kritis Bala Tentara Akal dan Kejahilan
pen.)
Kedua, seputar orang yang mengutamakan hawa nafsunya atas perintah Allah. (Bagian
ini kami bagi menjadi tiga bagian, menjadi : IV. Orang yang Mengutamakan Hawa
Nafsunya, V. Perbandingan Dunia dan Akhirat, VI. Telaah Anali-tik tentang Dunia
dan Akhirat pen.)
Ketiga, seputar orang yang mengutamakan keinginan Allah atas keinginan dirinya.
(Bagian ini menjadi bagian ketujuh yaitu VII. Orang yang Mengutamakan Keinginan
Allah.
Terminologi Hawa Nafsu dalam Alquran dan Sunnah
Hawa nafsu adalah istilah keislaman yang digunakan dalam Alquran dan Sunnah. la
menjadi istilah dengan arti khas budaya keislaman. Sering kita menemukan kata
hawa nafsu dalam Alquran dan Sunnah. Antara lain, Allah SWT berfirman:
"Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai
tuhannya, maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?" (Q.S.
Al-Furqon 43.)
Dan firman Allah SWT: "Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran
Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya
surgalah tempat tinggal(nya)."(Q.S. An-Nazia'at 40- 41.)
Amirul Mukminm Ali as dalam Nahjul Balaghahnya berkata: "Sesungguhnya yang
paling aku kuatirkan pada kalian adalah dua hal, yaitu taat hawa nafsu dan
angan-angan panjang."
Diriwayatkan melalui Imam Shâdiq bahwa Rasulullah SAWW bersabda:
"Waspadalah terhadap hawa uafsu kalian sebagaimana kamu sekalian waspada
terhadap musuh. Tiada yang lebih pantang bagi manusia daripada mengikuti hawa,
nafsu dan ketergelinciran lidah yang tak bertulang."[4]
Imam Shâdiq as juga berkata: "Janganlah kalian biarkan jiwa bersanding
bersama hawa nafsu. Karena, hawa nafsu pasti (meinbawa) kehinaan bagi
jiwamu.”[5]
Enam Sumber dalam Jiwa Manusia
Untuk mengenal posisi hawa nafsu dalam jiwa dan perannya dalam kehidupan
manusia, saya perlu menegaskan bahwa Allah SWT telah memasang beberapa sumber
gerak dan kesadaran manusia. Semua gerak -aktif ataupun reaktif- dan kesadaran
manusia bermuara dari sumber-sumber ini. Tercatat ada enam sumber penting, yang
terutamanya adalah hawa nafsu, sebagai berikut.
1. Fithrah, yang telah dilengkapi Allah dengan kecenderungan. hasrat dan gaya
tarik menuju dan mengenal-Nya dan meraih keutamaan-keutamaan akhlak, seperti
kesetiaan, 'iffah (harga diri), belas kasih dan murah hati.
2. 'Aql, adalah titik pembeda manusia.
3. Irâdah, adalah pusat keputusan dan yang menjamin kebebasan manusia (dalam
mengambil keputusan) dan kemerdekaannya.
4. Dhamir, yang berfungsi sebagai mahkamah dalam jiwa. la bertugas mengadili,
mengecam dan melakukan penekanan terhadap manusia demi menyeimbangkan
prilakunya.
5. Qalb, fuad dan shadr, merupakan jendela lain bagi kesadaran dan pengetahuan,
sebagaimana kita pahami melalui ayat-ayat Alquran, yang dapat menerima atau
menampung pencerahan Ilahi.
6. Al-hawa, adalah kumpulan berbagai nafsu dan keinginan dalam jiwa manvisia
yang menuntut pemenuhan secara intensif. Bila tuntutannya terpenuhi, iadapat
memberi manusia kenikmatan tersendiri.
Inilah keenam sumber penting bagi gerak dan kesadaran jiwa manusia yang telah
diberikan oleh Allah.
Dalam kesempatan ini, rasanya tidak tepat jika saya membahas sumber-sumber
tersebut atau membentuk gambaran dan simpulan ilmiah melalui nash-nash
keislaman. Karena, bidang psikologi keislaman ini memerlukan kajian, observasi
dan penalaran yang mendalam. Semoga Allah memudahkan bagi mereka yang
menelitinya melalui teks-teks keislaman. Bidang ini tergolong subur dan
"perawan" (tak tergarap). Kesuburan dan "keperawanan" salah
satu dari lahan-lahan budaya keislaman ini mestinya merangsang para ilmuwan dan
peneliti untuk menggarapnya.
Tugas saya dalam kajian kali mi, hanya terbatas pada masalah definisi serta
peran hawa nafsu dalam kehidupan manusia. Di samping itu. saya akan membahas
keistimewaan, dampak, tujuan dan sarana-sarana pengekangannya serta beberapa
masalah lain yang berkaitan.
Bersamaan dengan itu, dalam mengkaji hawa nafsu saya akan beberkan hadis-hadis
yang berhubungan dengan "sumber-sumber" lain jiwa yang ikut andil
dalam pergerakan dan kesadaran manusia. Penggunaan istilah hawa nafsu dalam
kebudayaan Islami mangacu pada gabungan beberapa naluri yang bersemayam dalam
jiwa, sedangkan manusia sebagai penyandangnya selalu dituntut agar memenuhi
hasratnya. Berbagai naluri syahwati itu membentuk bagian terpenting dan
berperan luar biasa dalam kepribadian manusia. la adalah faktoi- utama dalam
menggerakkan dan mengatur diri manusia. Bahkan sebagai kunci yang paling
efektif untuk mengatur aksi dan reaksinya.
Kekhasan-kekhasan Hawa Nafsu
Untuk lebih mengenal peran positif dan negatif hawa nafsu dalam membangun dan
meruntuhkan kehidupan manusia, maka semestinya kita terlebih dahulu mengetahui
watak-watak terpenting hawa nafsu. Dalam uraian berikut ini akan saya paparkan
watak-watak terpenting hawa nafsu melalui teks-teks keislaman.
1. Watak Ekspansif Hawa Nafsu
Termasuk paling menonjolnya ciri hawa nafsu adalah tuntutannya yang cenderung
ekspansif atau meluas. Hawa-nafsu manusia memiliki derajat pemuasan yang
berbeda-beda yang, pada gilirannya, memiliki tuntutan yang berbeda-beda pula.
Sebagian syahwat ada yang tuntutan dan permintaannya bersifat mutlak, sehingga
pemuasannya pun tak dimungkinkan. Namun ada sebagian lain yang pemuasannya
dimungkinkan setelah sekian ekspansi dilakukan. Secara keseluruhan, hawa nafsu
memiliki sifat ekspansif yang sukar terpuaskan dalam batas-batas yang masuk
akal.
Dalam kaitannya dengan sifat di atas, Rasul SAWW bersabda: "Sekiranya anak
Adam meinpunyai sebuah lembah emas, niscaya dia akan meminta tambah satu lagi.
Sekiranya dia telah mempunyai dua lembah emas, niscaya dia akan meminta lagi
(lembah yang ketiga). Tidak akan puas kantong mulut seseorang, kecuali jika
sudah penuh dengan tanah”.[6]
Dalam redaksi yang agak berbeda Nabi SAWW bersabda: "Sekiranya anak cucu
Adam mempunyai dua lembah emas, niscaya dia masih berhasrat pada lembah yang
ketiga".[7]
Diriwayatkan dari Hamzah bin Humran cerita demikian: "Seorang mengeluh
pada Abi Abdillah as (Imam Ja'far Ash-Shâdiq) tentang permohonannya yang selalu
terkabul, tapi dia tak pernah terpuaskan. Kepada Imam dia merengek sembari
berkata: "Ajarilah aku sesuatu yang berguna bagi diriku."
Abu Abdillah berkata: "Jika sesuatu yang mencukupimu itu memuaskanmu, maka
yang paling remeh dari dunia akau memuaskanmu. Jika sesuatu yang mencukupimu
itu tidak memuaskanmu, maka segala apa yang ada di dunia tidak akan pernah
memuaskanmu.”[8]
Amir Al-Mukminin Ali as berkata: "Wahai anak Adam! Jika kamu ingin sesuatu
yang mencukupimu dari dunia, maka sesungguhnya yang paling kecil (sedikit)
darinya akan mencukupimu. Sebaliknya, jika kamu ingin sesuatu yang tidak akan
mencukupimu (atau sesuatu yang memuaskanmu, peny.), maka segala apa yang
terdapat di dalamnya tidak akan mencukupimu".[9]
Kalimat "mutlak tidak terpuaskannya hawa nafsu" dalam riwayat-riwayat
di atas tidaklah hakiki. la hanya bermakna bahwa hawa nafsu memiliki sifat
ekspansif yang berlebihan dan tidak mengenal batas.
Di usia senja, ada sebagian nafsu yang menurun, sementara ada sebagian lain
yangjustru menunjukkan kerakusannya.[10]
2. Daya Gerak dan Desak yang Dahsyat pada Hawa Nafsu
Hawa-nafsu adalah faktor terkuat yang menggerakkan manusia. Buktinya adalah
sejarah peradaban-peradaban Jahiliah yang telah mencakup bagian terbesar
sejarah dan geografi bumi.
Bila kita mengesampingkan peran marginal fitrah, dhamir dan akal dalam
membentuk peradaban Jahiliah, maka hawa nafsu adalah faktor paling menentukan
bangunan peradaban-peradaban tersebut. Baik dalam suasana perang atau damamya,
dalam aspek ekonomis, pengetahuan dan kriminalnya, hawa nafsu tetap menduduki
posisi paling sentral di dalamnya.
Dinwayatkan bahwa Zaid bin Shauhan bertanya kepada Amiril Mukminin Ali as,
gerangan penguasa manakah yang paling digdaya? Imam Ali as menjawab: hawa
nafsn.[11]
Dengan ungkapan yang luar biasa indah, Alquran bercerita tentang istri Al-Aziz
(raja Mesir) dan menunjukkan betapa kuatnya peranan hawa nafsu dalam kehidupan
manusia.
Allab berfirman dalam surah Yusuf, "... karena sesungguhnya hawa nafsu itu
selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh
TuhanKu". (QS.Yusuf 53.)
Amiril Mukminin Ali as berkata: "Dosa-dosa (syahwat) tak ubahnya kuda liar
yang terlepas kendalinya, ia akan dengan kencang melarikan pengendaranya ke
neraka. Ketahuilah, sesungguhnya taqwa ialah kendaraan yang patuh.
Pengendaranya dengan santai dapat memegang kendali dan ia akan membawanya masuk
ke surga."[12]
Asy-Syumus (kalimat yang dipakai Imam Ali) adalah bentuk jamak dari Syamus yang
berarti kuda yang tidak mau dinaiki punggungnya dan dikendalikan tali
kekangnya. Dengan kata lain, pengendara tidak bisa memegang dan memamkan tali
kekang kudanya sama sekali. Kuda seperti itu akan membawa pemiliknya ke mana
saja tanpa menentu. Demikianlah halnya hawa nafsu clan syahwat yang membawa
pelakunya sehingga ia tidak bisa menguasainya dan tidak mampu mengarahkannya.
Sebaliknya taqwa. la selalu membantu manusia menguasai hawa nafsu, membimbing
dan mengarahkan jiwa menuju surga.
3. Tuntutan Hawa Nafsu akan Berlipat-ganda jika
Dipuaskan
Sifat hawa nafsu[13] yang ketiga ialah selalu lebih menuntut dan memaksa,
setiap kali manusia mengabulkannya. Sifat mi bertolak-belakang dengan sifat
tuntutan-tuntutan yang lam yang melemah dengan terkabulnya tuntutan, hingga
akhirnya mendekati kepuasan.
Pelipat-gandaan tuntutan dan desakan hawa nafsu berbanding-lurus dengan
pemenuhan yang dilakukan manusia. Dalam pada itu, sebagai konsekuensi logisnya,
kontrol manusia terhadap hawa nafsu berkurang. Demikian juga sebaliknya,
setiap-kali manusia mengekang tuntutan hawa nafsunya dengan tali akal, maka
tuntutannya semakin berkurang dan kemampuan manusia untuk menguasainya semakin
bertambah.
Syahwat bagaikan api. Semakin ditiup, semakin membara dan membahayakan.
Pemenuhan yang terkontrol di bawah syariat adalah lebih "memuaskan"
nafsu manusia ketimbang pemenuhan secara mutlak yang tak terbatasi.
Dalam beberapa nash keislaman telah disebutkan dua bentuk pemenuhan ini:
1. Pemenuhan tuntutan hawa nafsu secara mutlak yang akan menambah gairah dan
paksaan tuntutannya. Sebaliknya, bila pemenuhan tuntutannya dibatasi
ketentuan-ketentuan syariat, maka akan cepat merasa puas dan cukup.
Imam Ali as berkata: "Menolak syahwat berarti memuaskannya, sedang
memenuhinya akan menguatkannya."[14]
Maksud "menolak syahwat" adalah memenuhi tuntutannya dengan cara yang
terkendali. Aclapun maksud kalimat "memenuhinya" ialah memenuhi
tuntutannya dengan tanpa batas dan kendali.
2. Memenuhi tuntutan (hawa nafsu) secara mutlak menyebabkan kelemahan sistem
kontrol manusia terhadap hawa nafsu, sehingga seluruh kehendak dan kemampuannya
terbelenggu. Pada akhirnya, dia menjadi budak nafsunya.
Sebaliknya, memenuhi tuntutan hawa nafsu secara terbatas atau terkendali lebih
mendukung manusia untuk menguasai dan menundukkan hawa nafsu dan syahwat.
Dan Imam Al-Bâqir as berkata: "Orang yang rakus terhadap dunia bagaikan
ulat sutera. Kian bertambah banyak siuteranya, kian jauh kemungkinannya untuk
bisa keluar dari sarangnya. Sampai akhirnya dia mati (terjerat suteranya
sendiri)."[15]
Penguasaan Akal terhadap Hawa Nafsu
Meski kekuasaan hawa nafsu sangat efektif, tapi akal manusia mampu memanajemeni
dan mengarahkannya dengan cara memperkuat posisi dan perannya dalam jiwa
manusia.
Jika suatu saat peranan akal melemah dan hawa nafsu lolos daii genggamannya,
maka ia mesti tetap menempati posisi yang memerintah dan melarang, menghukum
dan menolak. Sedangkan hawa nafsu hanya bisa membuat kebingungan dan
membangkitkan waswas dalam jiwa.
Imam Ali as berkata: "Jiwa adalah tempat bisikan-bisikan hawa nafsu.
Sedangkan akal berperan untuk menolak dan meredainnya."[16]
Imam Ali as berkata: "Di dalam hati ada hasutan-hasutan jahat, dan akal
(berupaya) menyingkirkan mereka."[17]
Maksud dari kedua hadis tersebut ialah bahwa hawa nafsu bersemayam dalam jiwa
manusia hanya untuk menimbulkan bisikan-bisikan jelek. Sebaliknya, akal tampil
sebagai penguasa yang berhak menghukumi, menolak dan mencegah.
Imam Ali as berkata: "Akal yang sempurna adalah akal yang mampu mengusir
tabiat jelek (dalam jiwa)."[18]
Maksudnya, meski tabiat dan akhlak manusia telah diperdayai oleh hawa nafsu,
tapi akal masih tetap dalam posisi yang kokoh dan mempunyai kekuasaan yang
prima untuk menekan tabiat yang sudah terpengaruh kejelekan itu. Hal ini akan
menjadi realita jika akal itu sempurna dan lurus. Yang demikian ini merupakan
landasan yang sangat mantap dalam metode pendidikan Islam yang Insya Allah akan
saya bahas secara terinci dalam bagian mendatang.
Manusia adalah Gabungan Akal dan Hawa Nafsu
Dari pembahasan yang telah lalu ini kita bisa menarik kesimpulan bahwa meskipun
hawa nafsu mempunyai daya yang sangat kuat dan berpevan aktif serta efektif
dalam kehidupan manusia, tapi kehendaknya untuk menyempurnakan, mematangkan dan
menonjolkan peran akal tidak pernah terampas. Hal itu disebabkan oleh karena
manusia terdiri dari akal dan hawa nafsu.
Manusia selalu berada dalam tarik-menarik keclua faktor ini. Fluktuasi keduanya
berakibat langsung pada manusia. Semuanya, sebenarnya, bergantung pada
manusianya sendin dalam sejauh mana mengfungsikan atau medisfungsikan akal
dalam kehidupannya.
Manusia berbeda sekali dengan binatang. Binatang tidak mempunyai akal yang bisa
mengatur dunianya; langkah-langkahnya secara total dikemudikan oleh hawa nafsu.
la sepenuhnya tunduk padanya dan sikapnya termanifestasi melalui faktor hawa
nafsu saja.
Imam Ali as berkata: "Allah menganugerahkan akal yang tak berunsur syahwat
kepada inalaikat, syahwat tanpa unsur akal pada binatang, dan keduanya (akal
dau syahwat) kepada anak cucu Adam. Karenanya, siapa yang akalnya bisa
mengalahkan syahwatnya, maka dia lebih baik daripada malaikat dan siapa yang
syahwatnya mengalahkan akalnya, maka dia lebih buruk daripada
binatang."[19]
"Pelembutan" Hawa Nafsu
Di antara tema yang menonjol dalam psikologi keislaman adalah pelembutan dan
penghalusan hawa nafsu, syahwat dan naluri. Karena watak kesemuanya itu bisa
melembut dan mengeras.
Di saat lembut, akallah yang menjadi hakim dan sempurnalah kemanusiaan
seseorang. Di saat keras, hawa nafsulah yang menjadi hakim dan sempurnalah
kebinatangan manusia. Dalam kedua kondisi tersebut, manusia sendirilah yang
menentukan segalanya. Semakin sering seorang menuruti hawa nafsunya, semakin
mengeras dan, akhirnya, semakin dominan ia. Sebaliknya, jika seseorang selalu
malakukan tekanan atas hawa nafsu, maka lambat-laun ia akan melemah dan,
implikasinya, mudah menurut pada kontrol akal.
Semua manusia, bertaqwa atau tidak, sama-sama mempunyai hawa nafsu dan syahwat.
Bedanya, yang bertaqwa mampu -secara aktif- menguasai dan mengatur hawa nafsu
dan syahwatnya, sedangkan orang yang tidak bevtaqwa -secara pasif- dikuasai dan
diatur oleh syahwat dan hawa nafsunya. Pada kondisi manapun manusia tetap
berikhtiar. Ikhtiar berati melakukan penekanan dan pelatihan atas hawa nafsu,
atau malahan (menurut istilah Imam Ali as peny.) menuruti kehendaknya (dengan
mengurangi tuntutannya). Dalam kajian selanjutnya, saya akan membahas kiat-kiat
menguasai hawa nafsu, nash-nash keislaman yang menjelaskan dua keadaan (posisi)
hawa nafsu -yang lemah dan yang keras -, teknik melemahkan hawa nafsu, dan
perbuatan-perbuatan yang mengakibatkan terkristalnya hawa nafsu.
Alquran menjelaskan:"... tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada
keimanan dan menjadikan kamu beuci kepada kekafiran, kefasikan dan
kedurhakaan..."(Q.S.Al-Hujurât :7).
Allah menanamkan rasa benci kepada kefasikan -yang diperebutkan para durja-
dalam kalbu Mukmin dan ahli taqwa. Sebenarnya, siapakah yang membencikan
orang-orang mukmin kepada kefasikan? Dan siapa pula yang membuat senang
orang-orang fasik terhadap kefasikan?
Jawabnya, adalah Allah SWT Dia yang membencikan kefasikan kepada jiwa
orang-orang Mukmin. Hati orang mukmin berada dalam genggaman dan kekuasaan
Allah dan Allah senang kefasikan berada dalam jiwa orang fasik sebab orang
fasik itu sendiri mencmtai kefasikan dan selalu mengikuti hawa nafsunya.
Rasulullah SAWW bersabda: "Rutin melakukan kebaikan berarti kebencian bagi
kejelekan".[20]
Konsistensi dalam melakukan kebaikan akan membawa kebencian atas kejelekan.
Kejelekan yang dimaksud ialah syahwat dan kelezatan yang selalu dicari dan
dikejar-kejar manusia. Karena, syahwat dan kelezatan yang diharamkan itu selalu
dikejar-kejar oleh para penyeleweng dan kaum fasik. Begitu pula sebaliknya.
Kejelekan yang selalu dilakukan akan membaca kecintaan pada kejelekan itu. Dan
yang demikian itu adalah wajar dan rasional.
Imam Amiril Mukminin Ali as dalam khotbahnya yang menerangkan ciri-ciri orang
taqwa dan khotbah ini dikenal dengan Khotbah Hammâm, beliau berucap: "
(Ahli tagwa) itu dekat angan-angannya, sedikit kesalahannya, khusyu’ hatinya,
mudah terpuaskan, sederhana makanannya, ringan urusannya, kukuh agamanya, "mati"
nafsuniya, dan tertahan emosinya."[21]
Sesungguhnya taqwa dapat melunakkan syahwat dan hawa nafsu seseorang. Dengan
taqwa, jiwa yang serakah berubah menjadi qanâ’ah. Syahwat pun menjadi
lemah-lembut seakan mati.
Nash di atas, dan yang semisalnya, tidak hendak menyatakan bahwa peran taqwa
adalah pengekang syahwat dan hawa nafsu. Walau pengertian itu bisa dibenarkan,
tapi maksud riwayat lebih jauh lagi. la ingin menekankan bahwa peranan taqwa
itu juga untuk melemah-lembutkan hawa nafsu dan meringankan syahwat.
Demikianlah riwayat-riwayat tersebut di atas saya pahami.
Selanjutnya saya akan nukilkan beberapa riwayat tanpa menyebut komentarnya.
Imam Ali as bersabda: "Semakin kokoh hikmah (seseorang), semakin lemah
syahwatnya."[22]
Imam Ali as berkata: "Jika kemampuan kita (dalam menaklukkan hawa nafsu)
bertambah, maka (tuntutan-tuntutan) hawa nafsu kita akan berkurang."[23]
Imam Ali as berkata: "'lffah (inenjaga diri) dapat melemahkan syahwat
(hawa nafsu)."[24]
Imam Ali as berkata: "Siapa yang merindukan surga, akan melupalah
syahwat.”[25]
Imam Ali as berkata: "Ingatlah bahwa setiap kelezatan akan hilang. Setiap
kenikmatan akan berpindah. Dan setiap bencana pasti akan berakhir jua. Dengan
begitu kita telah niengabadikan nikmat, meujernihkan syahwat, menghilangkan
takabur, mendekatkan bahagia, melipur lara, dan menggapai cita-cita."[26]
Taqwa dan kontrol hawa nafsu ialah dua faktor yang (seharusnya) menguasai
syahwat dan naluri manusia sampai sejauh mungkin. Sehingga hawa nafsu seiring
dengan hukum Allah dan segala keinginannya sesuai dengan kehendak Allah SWT.
Setelah itu, baru manusia dapat membenci dan lari dari segala yang dilarang
Allah. Demikianlah manusia mencapai puncak interaksi dengan Tuhannya.
Perubahan jiwa yang menakjubkan ini sebenarnya telah dijelaskan oleh Allah
dalam Alquran di surah Al-Hujurât ayat 7 yaitu:
"... tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan
kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan...".
Walhasil, keberadaan taqwa fase inilah yang sangat berpengaruh dalam jiwa
manusia. Karena ia ticlak hanya mampu mencegah seseorang dari kefasikan,
kekafiran dan kemaksiatan, namun juga menanamkan rasa benci terhadap hal-hal
tersebut.
Peran Positif Hawa Nafsu dalam Kehidupan Manusia
Memperhatikan peran destruktif hawa nafsu bagi manusia -yang Insya Allah- akan
saya bahas secara terpisah clalam kajian benkutnya, maka wajar kalau ada yang
bertanya-tanya tentang faedah Allah menciptakan hawa nafsu? Atau apakah
sesungguhnya nilai positif hawa nafsu manusia itu? Untuk jawaban yang memadai,
perhatikan beberapa butir di bawah:
1. Hawa Nafsu ialah Agen dan Aktor Penggerak Terkuat
pada Jiwa Manusia
Hawa nafsu mampu membentuk sulûk (prilaku) manusia. Oleh sebab itu, Allah SWT
mengkaitkan banyak masalah penting kehidupan dengan hawa nafsu. Hawa nafsu
menjamin terpenuhinya beragam kebutuhan primer manusia. Masalah reproduksi,
misalnya. la merupakan bagian vital kehidupan manusia. Tanpa proses tersebut
spesies manusia akan punah. Untuk kebutuhan vital seperti di atas, Allah
menganugrahi manusia dengan hawa nafsu seksual yang merangsang perkawinan dan
reproduksi sebagai jaminan kelangsungan dan kelestarian jenis manusia.
Allah SWT menggantungkan pertumbuhan manusia pada nafsu makan dan mmum. Tanpa
keduanya, manusia tidak akan dapat menumbuhkan lagi sel-sel yang rusak oleh
gerak dan keija manusia.
Allah SWT juga telah membekali manusia dengan naluri bermasyarakat yang
melaluinya sistem kehidupan sosial dan madani manusia muncul.
Posesifitas atau rasa memiliki dijadikan sebagai motor kegiatan ekonomi. Tanpa
insting atau naluri ingin memiliki ini akan hancur seluruh sistem ekonomi
manusia.
Amarah Allah jadikan sebagai sumber bagi aktivitas mekanisme pertahanan diri
(self defense mechanism) dan pertahanan terhadap kehormatan, harta dan
keluarga. Jika amarah tidak ada pada manusia, maka permusuhan tidak akan ada
dan nilai perdamaian pun akan sirna. Demikianlah, Allah SWT menjamin
kebutuhan-kebutuhan hidup umat manusia yang primer dengan hawa nafsu.
2. Hawa Nafsu Sebagai Tangga Menuju Kesempurnaan
Hawa nafsu adalah tangga menuju kesempumaan, seperti itu juga ia dapat menjadi
peluncur menuju kepada kekurangan. Berikut ini kita akan menjelaskan makna
pernyataan di atas.
Berbeda dengan jenis perkembangan dan penyempurnaan pada benda padat,
tetumbuhan dan binatang yang bersifat deterministik atau terpaksa, gerak
penyempurnaan integral manusia menuju Allah berakar dari "irâdah".
Allah SWT memuliakan manusia dengan irâdah. Setiap langkah yang digerakkannya,
berdasarkan irâdah dan ikhtiar. Meskipum kehendak Allah berlaku pada seluruh
makhluk, namun manusia adalah makhluk yang melaksanakan kehendak Tuhan
(hukum-hukum Tuhan) dengan irâdah dan ikhtiarnya sendiri.
Sebenarnya hudûd merupakan irâdah dan kehendak Allah SWT yang dilakukan manusia
melalui ikhtiar dan irâdahnya, sebagaimana “hukum alam" juga merupakan
keingi nan dan irâdah Allah yang dijalani makhluk lain secara terpaksa.
Dalam konteks inilah istilah khalîfatullâh[27] dalam Alquran mesti dipahami.
Sedangkan makhluk lain dalam istilah Akjuran disebut musakharât bi amrihi
(mereka yang tunduk pada perintah-Nya).[28]
Kata khalîfah dan taskhîr (eksploitasi)) adalah dua kata yang mempunyai sisi
persamaan dan sisi perbedaan. Persamaannya, keduanya bermakna menjalankan
perintah Ilahi. Perbedaannya, khalîfah menjalankan berdasar ikhtiarnya sendiri,
adapun yang Musakharât bi amrihi melaksanakan perintah tanpa ikhtiar dan irâdah
atau secara deterministik dan terpaksa.
Disinilah letak rahasia nilai keagungan manusia. Seandainya ketaatan manusia
kepada Allah tidak terjadi karena irâdah dan ikhtiar, niscaya dia tidak
memiliki nilai yang lebih tinggi dibanding makhluk lainnya. Dan karena itu pula
Allah mengangkat manusia sebagai khalifah Allah SWT
Nilai perbuatan manusia berbanding-lurus dengan usaha yang dicurahkan dalam
ketaatannya kepada perintah Allah. Karenanya, bertambah besar usaha dan
susah-payah manusia dalam merealisasikan suatu ketaatan, bertambah pula nilai
perbuatannya. Dari sisi lain, efektifitas perbuatan yang dilakukan dengan
susah-payah itu lebih tinggi.
Jelas acla perbedaan yang mencolok antara nilai 'makan-minum' dan 'puasa' meski
keduanya sama-sama melaksanakan perintah Allah. 'Makan-minum' dilakukan manusia
tanpa susah-payah dan pengorbanan sedikitpun, karenanya nilainya pun tak
berarti.
Apakah maksud susah-payah? Bagaimana ia bisa muncul? Mengapa derajatnya
berbeda-beda?
Dalam peristilahan Islami, susah-payah itu disebut ibtilâ` (pencleritaan).
Pendeiitaan ini selalu vis a vis hawa nafsu dan syahwat. Seandainya hawa nafsu
dan naluri yang telah diletakkan oleh Allah dalam jiwa kita tidak ada, dan
sekiranya ketaatan kepada Allah tidak dilaksanakan dengan menentang hawa nafsu,
maka suatu perbuatan tidak akan mempunyai nilai dan tidak akan menjadi faktor
pendorong dan pendekat manusia kepada Allah.
Perbedaan derajat penderitaan terjadi akibat perbedaan intensitas hawa nafsu
dan syahwat. Jika hawa nafsu dan syahwat lebih menguat dan memaksa, maka
penderitaan manusia dalam menahan, menentang dan menguasainya akan lebih besar.
Selama perbuatan menuntut manusia untuk lebih bersungguh-sungguh dalam
menentang hawa nafsu dan syahwat, maka selama itu pula perbuatan akan lebih
besar nilainya dalam tagarrub manusia kepada Allah, dan lebih agung pula pahala
yang Allah berikan kepadanya kelak di surga.
Dengan demikian, jelaslah apa nilai hawa nafsu dalam menggerakkan manusia
menuju Allah. Semua tagarrub mesti melewati hawa nafsu dan syahwat yang berada
dalam jiwa.
Nilai bipolar (berkutub ganda) hawa nafsu -sebagai
tangga kesempurnaan dan juga sebagai peluncur kesesatan- ini merupakan salah
satu pemikiran keislaman yang amat unik. Di bawah ini ada beberapa nash
keislaman berkenaan dengan bipolaritas hawa nafsu:
1. Dari Abi Al-Bujair - sahabat Nabi SAWW - berkata, suatu han Nabi SAWW merasa
lapar, lalu beliau meletakkan sepotong kerikil di perutnya dan mengatakan:
"Ketahuilah! Berapa banyak orang yang kenyang perutnya dan rapi pakaiannya
di dunia, tapi dia akan kelaparan dan telanjang di akhirat. Berapa banyak orang
yang memuliakan nafsunya, padahal dia menghmakan dirinya. Berapa banyak orang
yang menghmakan nafsunya, padahal dia memuliakan dirinya. Berapa banyak orang
yang tenggelam menikmati sesuatu yang telah dijanjikan Allah melalui Rasul-Nya,
namun dia di sisi Allah tidak mendapat bagian apapun. "Ketahuilah bahwa
'kinerja surgawi' bagai bukit-bukit terjal yang bertebing cadas dan kinerja
neraka bagai jalan mulus yang mudah dilalui nafsu. Berapa banyak nafsu yang
sekejap (di dunia), justru mengakibatkan sengsara yang berkepanjangan (di
akhirat). "[29]
Nash di atas mengandung banyak renungan yang luar biasa. Banyak orang yang
berperut kenyang, berdandan rapi, selalu memenuhi hawa nafsu clan memperoleh
kelezatan tanpa pernah merasakan puas apalagi bersikap wara'... Sosok jiwa ini
akan hadir di hari kiamat dalam keadaan lapar dan telanjang.
Sekian banyak orang yang seakan memuliakan hawa nafsunya dengan cara memenuhi
setiap ajakannya. Padahal, dengan begitu, dia hanya akan merendahkan jiwanya
sendiri. Sebaliknya banyak juga orang yang bersikap keras, sinis dan acuh tak
acuh akan tuntutan hawa nafsunya, padahal begitulah cara yang sebenarnya untuk
raemuliakan diri manusia.
Sungguh tidak sedikit manusia yang sengsara di akhirat akibat berfoya-foya
dengan kelezatan hawa nafsu clan syahwatnya di dunia.
Ada sebuah riwayat yang demikian bunyinya: "Ketahuilah bahwa jalan yang
mengantarkan manusia menuju surga bagai jalan terjal dau bertebing."
Kata al-haznah artinya ialah tanah keras yang penuh bebatuan. Perbuatan surgawi
mesti melalui bukit yang tinggi nan terjal. Sedang perbuatan neraka hanya bagai
berjalan di atas tanah yang mulus dengan "peluncur" nafsu, kesenangan
dan kelezatan.
Demikianlah, orang yang berjalan di atas tanah yang keras, terjal dan menaiki
tebing-tebing yang bebatuan, seakan dia melawan gravitasi. Sedangkan orang yang
berjalan di tanah yang mulus, seakan dia berserah-diri pada gravitasi. Inilah
perbedaan antara "kinerja surgawi" dan "kinerja neraka"
serta antara ketaatan dan kemaksiatan.
2. Imam Ali as pernah menukil sabda Rasulullah SAWW yang demikian bunyinya:
"Sesungguhnya (jalan ke surga) penuh dengan kesusahan, sedang (jalan ke)
neraka penuh dengan nafsu (Baca : kemudahan). Camkanlah! Ketaatan kepada Allah
dilakukan dengan kesusahan. Sedang kemaksiatan hepada Allah dilakukan dengan
nafsu. Semoga Allah merahmati orang yang menjauhkan jiwanya dari rayuan
syahwatnya dan orang yang mengalahkan hawa nafsunya. Sesunggnhnya syahwat
hendaknya ditarik sejauh mungkin (dari jiwa). Syahwat senantiasa rindu kepada
kemaksiatan yang dilakukan dengan nafsu."[30]
Nash ini mengungkap kesimpulan yang sama dengan teks-teks keislaman lainnya.
Surga adalah terminal akhir gerak askendensial (menaik) manusia menuju Allah,
sedang neraka adalah terminal akhir gerak deskendensial (menurun) manusia
menuju kehancuran.
Tujuan yang pertama itu diliputi berbagai derita dan rintangan. Berbagai
clerita dan rintangan itu terjadi akibat dari upaya jiwa menentang dan menolak
ajakan hawa nafsu. Adapun tujuan yang keduanya penuh clengan kesenangan yang mudah
menggelincirkan seorang ke jurang hawa nafsu.
Melalui sabda Nabi SAWW di atas, Imam Ali as menciptakan suatu landasan umum
yaitu, tiada ketaatan yang diperoleh seorang kecuali dengan ketidaksukaan. Dan
tiada kemaksiatan yang dilakukan seorang kecuali dengan kesenangan (nafsul.
Setelah uraian ini, tidak sulit bagi kita untuk menerima kenyataan bahwa
mengapa jalan menuju kesempurnaan. pertumbuhan dan gerakan menuju Allah harus
melintasi hawa nafsu. Dan hanya melalui hawa nafsu ini manusia clapat naik menuju
Allah SWT Sekiranya tak ada hawa nafsu yang telah diciptakan-Nya, niscaya tak
ada pula jalan yang mengantarkan manusia mendaki ke puncak ilahi.
3. Pergumulan Internal Jiwa Manusia
Hawa nafsu ialah potensi yang disimpan Allah pacla diri setiap manusia. Manusia
akan mengeluarkannya (mengaktualisasikannya) bila dibutuhkan. Seperti juga
Allah telah meletakkan berbagai energi dalam perut bumi untuk bahan makanan,
pakaian dan beragam prasarana kehidupan lainnya. Begitu pula dengan
"suplai" air dan oksigen yang sangat dibutuhkan manusia.
Berbagai potensi yang diberikan Allah itu antara lain, pengetahuan. kebulatan
tekad, keyakinan, kesetiaan, keberanian, ketulusan, 'iffah (menjaga
harga-diri), disiplin, bashîrah (visi), kreativitas, kesabaran, penolakan,
penghambaan ('ubûdiyyah) serta penegasan. Kemampuan-kemampuan ini ada dalam
hawa nafsu manusia secava potensial.
Hawa-nafsu dan kemampuan instingtif lainnya adalah tahap kebinatangan manusia.
Namun, berbeda dari semua binatang yang lain, Allah telah memberinya kemampuan
untuk mengendalikan dan menghambat serta membatasi naluri-naluri ini dengan
irâdah. Dan dengan begitu, kebinalan naluriah manusia dapat diubah menjadi
keutamaan-keutamaan ruhani, maknawi, dan akhlaki seperti bashîrah, yaqîn, azam,
keberanian dan ketaqwaan.
Bagaimana prosesnya naluri-naluri yang buas dan binal itu bisa berubah karena
adanya "pencegahan" dan "taqwa" sehingga menjadi
nilai-nilai yang tinggi dalam diri manusia? Aksi-reaksi apakah yang bisa
mentrasformasikan naluri-naluri yang binal ini menjadi pengetahuan, keyakinan,
kesabaran dan bashîrah?
Sungguh menyesal penulis untuk mengatakan "tidak tahu!". Pintu
makrifat yang lebar ini masih tertutup bagi penulis. Sampai kini, belum ada
psikolog modern maupun pakar studi-studi keislaman yang bersedia membuka pintu
makrifat tersebut. Meskipun demikian, kalau kita menengok din kita sendiri,
maka akan kita temukan isyarat-isyarat yang jelas akan terjadinya pergumulan
dan interaksi besar dalam jiwa manusia.
Rasa malu, misalnya, bukan hanya sebab bagi tertekannya naluri seksual, tapi ia
juga merupakan efek dari peristiwa pencegahan dan penekanan terhadap naluri
lainnya. Begitu manusia membatasi seksualitasnya, dia memperoleh rasa malu
terhadap praktik seksual yang bertentangan dengan akhlak, adab, estetika dan
dzauq (cita-rasa Ilahi).
Adab yang saya maksud bukanlah tata-cara bergaul di tempat tidur, melainkan
sesuatu lebih tinggi. Adab dan dzaug yang menjadi lambang supremasi manusia
adalah efek dari pengekangan dan ketaqwaan yang dilakukan manusia di bidang
naluriah.
Jika kita kembali pada Alquran, maka pasti kita temukan adanya beberapa isyarat
yang jelas tentang adanya interaksi internal manusia.
Allah SWT berfirman:"... Dan bertagwalah kepada Allah, maka Allah akan
mengajarimu..." (Q.S. Baqarah : 282)
Mungkinkah klausa wayu'allimukumullâh di-athaf-kan atau dikonjungsikan dengan
wattagullâh, padahal keduanya tidak berhubungan? Ataukah kedua klausa ini
merupakan setali tiga uang?
Mereka yang akrab dengan gaya-ungkap Alquran, tidak akan meragukan lagi bahwa
dua klausa itu merupakan dua sudut dari sesuatu yang sama (dalam matematika
disebut ekuilateral, peny.). Ilmu (dalam ayat ini) adalah efek ketaqwaan kepada
Allah SWT Ilmu seperti ini tidak diperoleh dengan belajar. la adalah nur yang dipancarkan
Allah kepada hamba-Nya yang dikehendaki.
Alquran dalam surah Al-Hadîd ayat 28, menyebut "nur" ini: "Hai
orang-orang yang beriman (kepada rasul), bertaqwalah kepada Allah dan
berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah akan memberikan rahmat-Nya kepadamu
dua kali lipat, dan menjadikan untukmu (nur) "cahaya" yang dengannya
kamu dapat berjalan..."
Nur, dalam ayat ini, tak lain adalah ilmu dalam ayat sebelumnya. Ilmu dan taqwa
yang ada dalam surah Al-Hadîd ayat 28 dan surah Al-Baqarah ayat 282 bersifat
korelatif. Taqwa ialah realitas pengekangan naluri itu sendiri. Pengekangan ini
bisa merubah naluri dan hawa nafsu menjadi nuv, ilmu dan bashîrah.
Dalam cerita Nabi Yûsuf as yang terdapat dalam surah Yûsuf 22, Allah berfirman:
"Dan tatkala dia cukup dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu.
Dengaji demikian Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat
baik."
Dan kita temukan kandungan ayat yang bermiripan dalam cerita Nabi Musa yang
terdapat dalam surah Al-Qashas ayat 14: "Dan setelah Musa cukup umur dan
sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Dan demikianlah Kami
memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik."
Mengapa Allah mengistimewakan anugrah ini kepada Musa bin Imran as dan Yusuf as
dan tidak selainnya? Apakah hikmah dan ilmu ini hanya diperuntukkan pada
hamba-Nya yang tertentu dan bukan pada sembarang orang tanpa alasan? Apakah
semua itu termasuk dalam sunnah Ilahiyah (keniscayaan Ilahi)?
Sungguh seorang yang akrab dengan bahasa Alquran walaupun sesaat saja tidak
akan gamang akan hubungan hikmah dan ilmu dalam dua surah tersebut dengan
al-Ihsân pada klausa "wakadzâlika najzilmuhsinîn'. Ketika Allah
menghubungkan ilmu dan hikmah yang telah diperoleh Musa as dan Yûsuf as dari
Allah SWT dengan "Al-Ihsân" itu berarti - sesuai dengan sunnatullah -
bahwa ihsan atau kebaikan manusia adalah penyebab datangnya rahmat Allah dan
turunnya hikmah dan ilmu dari sisi-Nya.
Singkat kata, ihsan dan amal baik manusia akan berubah menjadi hikmah dan ilmu.
Tak pelak lagi, taqwa dan menahan nafsu adalah mishdaq (ekstensi) ihsan yang
paling utama.
Saya tidak ingin berpanjang-lebar dalam kajian ini. Karena, penulis merasa
tidak memiliki kunci utama menuju kajian yang sangat genting ini. Bagaimanapun
juga, saya bevharap Allah menyiapkan dan memudahkan orang yang
"layak" untuk mengkaji subyek bahasan ini.
Tak diragukan lagi bahwa jiwa manusia mengalami berbagai kausasi dan interaksi
internal. Hal itu sama persis seperti kausasi dan interaksi eksternal yang
terjadi dalam bidang fisika, kimia, geologi.
Fisik, umpamanya, mengenal kausasi dan interaksi panas dan gerak, atau arus
listrik dan gerak dan lain-lain. Oleh sebab itu, penulis dengan rendah hati
mengimbau sarjana psikologi keislaman untuk mengupas secara mendalam bidang
yang penting ini dari berbagai bidang psikologis dan kemudian menyimpulkan
hasil studinya itu.