Senin, 28 November 2016

HAWA NAFSU #2

Peran Destruktif Hawa Nafsu



Hawa Nafsu dan Thaghut

Hawa nafsu dan thâghût -selanjutnya tagut- adalah faktor bipolar (berkutub dua) yang sangat berpengaruh dalam merusak hidup manusia. Hawa nafsu beraksi merusak manusia dari dalam, sedang tagut merusak manusia dari luar. Setan beroperasi dalam jiwa manusia melalui hawa nafsu dan di masyarakat melalui tagut.

Dalam Alquran, Allah SWT memerintahkan kita untuk mencegah jiwa dari rayuan hawa nafsu, bahkan menyingkirkannya jauh-jauh.

Allah SWT berfirman: "Janganlah kalian ikuti ajakan hawa nafsu." Q.S. Al-Nisâ` 135.

Allah SWT berfirman: "... Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah..." Q.S. Shâd 26

Allah SWT berfirman: " ... Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu..."Q.S.A\-Maidah 48.

Sebagaimana pula Allah menyuruh kita untuk mengingkari dan menjahui thaghut.

Allah SWT berfirman: ''...Mereka hendak berhakim kepada tagut. Padahal niereka telah diperintah mengingkarinya. Q.S. An-Nisâ' 60.

Allah SWT berfirman: uDan orang-orangyang menjauhi tagut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku". Q.S. Az-Zumar 17.

Allah SWT berfirman: "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk inenyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah tagut itu..." Q.S. An-Nahl 36




Akal dan Agama

Dalam menghadapi hawa nafsu dan tagut, Allah telah membevi manusia akal dan agama sebagai petunjuk jalan yang lurus.

Peran akal ialah mengatur prilaku manusia dari dalam (jiwa) dan agama mengatur prilaku manusia dari luar.

Diriwayatkan dari Amiril Mukminin Ali as: "Akal merupakan syariat dalam diri manusia, dan syariat adalah akal di luar manusia.”[31]

Imam Musa Al-Kâzhim as berucap: "Allah mempunyai dua hujjah (bukti) atas manusia. Hujjah yang tampak (zhâhir) dan tersembunyi (bâthin). Hujjah yang tampak ialah para Rasul as dan imam as, sedaugkan hujjah yang tersembunyi ialah akal.”[32]

Akal dan agama selalu bahu-membahu dalam diri manusia dan di masyarakat luas untuk menghadang hawa nafsu dan tagut.

Diriwayatkan dari Imam Ali as: "Perangilah hawa nafsumu dengan akalmu.”[33]




Watak Destruktif Hawa Nafsu

Hawa nafsu sebagai daya yang mutlak dengan tuntutan yang mutlak memiliki kemampuan luar biasa untuk merusak jiwa manusia. la tidak dapat diserupai, bahkan setan dan tagut sekalipun.

Lacurnya, daya yang berkapasitas besar untuk merusak ini, laten dan tersimpan dalam jiwa manusia. Tiada jalan bagi manusia untuk bisa menghindar dari jangkauannya.

Oleh karena itu, hawa nafsu merupakan satu dari dua hal yang sangat dikhawatirkan Rasulullah SAWW bila pada umatnya. Rasulullah SAWW bersabda: "Sungguh yang paling aku khawatirkan atas umatku adalah hawa nafsu dan panjang angan-angan. Hawa nafsu akan membendung seorang dari Al-Haq (kebenaran), sedang panjang angan-angan akan melalaikan seorang dari akhirat.”[34]

Dalam sebuah riwayat, Imam Ali as bertutur: "Kelezatan (duniawi) itu merusak."[35]




Tahap Awal Cara Kerja Hawa Nafsu

Marilah kita renungkan hakikat peran destruktif yang dimainkan hawa nafsu dalam kehidupan manusia. Dalam jiwa manusia - sebagaimana yang pernah saya jelaskan -terdapat sejumlah sumber yang mensuplai kesadaran dan gerak manusia. Sumber-sumber inilah yang menegakkan kehidupan bendawi dan maknawi manusia.

Hawa nafsu adalah salah satu dari sumber ini. Tetapi, jika ia berkuasa, maka sumber-sumber yang lain akan menjadi difungsional. la akan menghentikan peran akal, kalbu, dhamîr, fitrah dan irâdah.

Sabotase terhadap sumber-sumber lain manusia akan mengakibatkan kehancuran yang meluas pada kepribadian manusia. Hawa nafsu lama-kelamaan akan secara membabi-buta meruntuhkan sumber-sumber lam manusia. Pada saat itu, - saat dimana sisi hevvani manusia berkuasa penuh atas manusia-manusia akan kehilangan kemanusiaan. Dan beginilah jadinya, bila faktor yang sangat konstruktif berubah menjadi destruktif.

Allah SWT berfirman: "... Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan urusannya itu sungguh telah melewati batas". Q.S. Al-Kahfi 28.

Maksud dari "melewati batas" di sini adalah menyia-nyiakan dan merusak.

Nash-nash keislaman benar-benar memberikan perhatian yang besar atas peran destruktif hawa nafsu manusia. Tujuannya, agar manusia tidak terpasang jerat halus hawa nafsu dan cepat-cepat memetak posisi hawa nafsu dalam diri mereka.

Selanjutnya, saya berusaha memaparkan peran destruktif hawa nafsu dalam nash-nash keislaman, sesuai dengan metode saya dalam kajian ini. Dalam nash-nash keislaman, kita menemukan bahwa tindakan destruktif hawa nafsu mempunyai dua tahap:

Pertama, merusak fungsi sumber-sumber kesadaran dan gerak manusia.

Kedua, menebarkan pengaruh dan memaksakan kekuasaan eksekutif atas manusia.

Dengan demikian, potensi apapun yang dimiliki manusia, seperti kecerdasan, pemahaman dan kejelian diubah menjadi aparat pemerintahan hawa nafsu.

Di bawah ini, saya akan memaparkan masalah tadi dalam kaca-mata riwayat-riwayat keislaman.




Tahap Pertama



Nash-nash keislaman menyebutkan banyak poin tentang pengaruh destruktif hawa nafsu bagi manusia. Berikut ini beberapa di antaranya:



Tahap Pertama



1- Hawa Nafsu Menutup Pintu-pintu Hati dari Petunjuk

Allah Berfirman: "Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?". Q.S. Al-Jâtsiah 23.

Firman Allah : "Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya...” Q.S. Al-Qashash 50.

Mengikuti hawa nafsu akan menyebabkan tertutupnya jendela-jendela hati untuk menerima (kehadiran) Allah. Rasul-Nya, tanda-tanda kebesaran-Nya, hujjah-hujjah-Nya dan bayyinah-bayyinah-Nya.

Amiril Mukminin Ali as berkata: "Meugihuti hawa nafsu akan membutakan, menulikan. dan menghmakan seseorang."[36]

Amiril Mukminin Ali as juga berkata: "Hawa nafsu adalah sekutu kebutaan." [37]

Beliau juga berkata: “Bila kamu mengikuti hawa nafsumu, ia akan menulikanmu dan membutakanmu." [38]

Amiril Mukminin Ali as berkata: "Aku berwasiat agar kamu menjauhi hawa nafsu. Karena, ia mengajakmu kepada kebutaan; yaitu kesesatan di dunia dan akhirat."[39]



2 - Hawa Nafsu Menyesatkan Manusia dan Menghalanginya dari Jalan Allah

Allah SWT berfirman: "Maku datanglah sesudah mcreka pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dau memperturutkan hama nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan." Q.S. Maryam 59.

Allah SWT juga berfirman: "... dan janganlah kamu meingikuti hawa nafsu, karena ia akon menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat di jalan Allah akan mendapat azab yang berat." Q.S. Shâd 26.

Rasulullah SAWW bersabda: "Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas umatku ialah hawa nafsu dan panjang angan-angan. Karena, hawa nafsu manusia dari kebenaran dan panjang angan-angan melalaikannya dan akhirat."[40]



3 - Syahwat itu Racun

Imam Ali as berkata: "Syahwat adalah racun yang mematikan.” [41]



4 - Hawa Nafsu itu Penyakit

Dan Imam Ali as: "Barang siapa tergesa-gesa mendatangi syahwatnya, maka penyakit akan cepot merasukinya.”[42]

Dari Imam Ali as: "Jagalah jiwau dan cengkeraman syahwat, kamu akan selamat."[43]

Dari Imam Ali as: "Pangkal segala penyakit adalah mabuk kesenangan (duniawi).”[44]

Dari Imam Ali as: "Pasangan syahwat adalah jiwa yang sakit dan akal yang tidak berdaya."[45]

Dari Imam Ali as: "Syahwat adalah penyakit yang mematikan. Sedang obat mujarabnya ialah kesabaran."[46]

Dari Imam Ali as: "Mengikuti hawa nafsu adalah penyakit segala penyakit."[47]

Dari Imam Ali as: "Syahwat berawal dengan kesenangan dan berahir dengan kesedihan."[48]



5 - Hawa Nafsu adalah Awal Nestapa Manusia

Dari Imam Ali as : "Hawa nafsu ialah pangkal bermacam nestapa."[49]



6 - Hawa Nafsu itu Kendaraan Fituah

Dari Imam Ali as Berkata: "Hawa nafsu adalah kendaraan fituah.”[50]

Dari Imam Ali as: "Awal-mula terjadinya fituah karena hawa nafsu yang diikuti."[51]

Dari Imam Ali as: "Waspadai kedudukan hawa nafsu kalian. Karena awalnya fituah dan akhirnya bencana."[52]



7 - Hawa Nafsu itu Keruntuhan dan Kehancuran

Imam Ali as berkata: "Hawa nafsu itu membinasakan.”[53]

Dari Imam Ali as: "Hawa nafsu menjerumuskan seseorang ke tempat yang paling rendah.”[54]

Imam Ash-Shâdiq as berkata: "Jangan umbar keinginan nafsu. Karena, keinginannya adalah kebinasaan."[55]



8 – Hawa Nafsu itu Kemusnahan

Imam Ali as berkata: "Hawa nafsu itu adalah sesuatu yang paling memusnahkan."[56]

Dari Imam Ali as: "Hawa nafsu itu pongkal kemusnahan."[57]



9 - Ihwa Nafsu itu Musuh Manusia

Imam Ash-Shâdiq as berkata: "Awasi hawa nafsumu seperti kamu mengawasi musuhmu. Karena, mengikuti hawa nafsu adalah inusuh utama manusia.”[58]



10 - Hawa Nafsu akan Mendisfungsi Akal

Irnam Ali as berkata: "Hawa nafsu adalah pantangan akal."[59]

Imam Ali as berkata: "Siapa yang tidah menguasai syahwatnya berarti tidak memiliki akalnyu."[60]

Imam Ali as berkata: "Hilangnya (fungsi) akal itu disebabkan (maraknya) rangsangan syahwat dan amarah."[61]

Beginilah jadinya bila hawa nafsu telah berkuasa sewenang-wenang. la berubah dari faktor pembantu manusia dalam taqarrub menjadi faktor perusak yang melumpuhkan segala sumber-pokok kemanusiaan manusia.

Demikianlah tahap pertama dari kerja hawa nafsu yang merupakan sisi negatif-pasif dari tindak destruktifnya.




Tuhap Kedua

Pada tahap pertama, sifat destruktif hawa nafsu hanya sampai pada melumpuhkan fungsi irâdah, akal, dhamir, kalbu dan fitrah manusia yang menurut istilah Alquran disebut dengan "pelalaian hati" (Ighfâlul Qalb).

Pada tahap ini, ia memaksakan kekuasaan eksekutifnya secara totaliter atas diri manusia. Sehingga, mau tidak mau, manusia menjadi pengikut hawa nafsunya. Menurut peristilahan, Alquran tahap kedua ini disebut dengan "Perihal mengikuti hawa nafsu'' (Ittibâu'l Hawâ).

Dalam menjelaskan ke dua bagian ini Allah berfirman: "... dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas". QS. Al-Kahfi 28.

Pada tahap pertama, hawa nafsu benar-benar telah mengosongkan hati manusia dari pemahaman, kesadaran, bashîrah, dan petunjuk.

Kemudian, pada tahap kedua, hawa nafsu mulai memaksakan kekuasaan eksekutifnya secara utuh atas diri manusia, sehingga dia bertekuk-lutut kepadanya.

Jika kedua tahap perusakan ini telah terjadi, akibatnya seperti disebut Alquran. "Keadaannya telah melampaui batas" (wa kâna amruhû furuthô).


Di bawah Penawanan Hawa Nafsu

Pada titik ini manusia telah sepenuhnya dalam genggaman dan penjara hawa nafsu. Pemenjaraan hawa nafsu atas manusia jauh lebih ketat daripada yang dilakukan manusia pada tawanan perangnya. Karena, tawanan perang dipenjarakan sebatas supaya dia tidak lari, melawan atau berbicara selain yang diperintahkan dan berbagai jenis eksploitasi lainnya. Bagaimanapun juga, dia tetap selalu bebas menjalankan tiga hal:

1. Penginderaan; baik pendengaran ataupun penglihatannya. Dia masih mampu melihat dan mendengar seita merasakan secara merdeka. Pihak penawan tidak akan mampu memaksakan perasaan tertentu pada tawanannya. Sehingga -misalnya- tawanan itu melihat yang bagus menjadi jelek atau sebaliknya.

2. Akal. Tawanan selalu mampu berfikir dan bernalar sekehendaknya. Kebebasannya dalam hal ini persis seperti para penawannya. Lebih jauh, pihak para penawan mustahil bisa memaksakan pola pikir seperti yang mereka inginkan.

3. Hati. Tawanan selalu bisa menyukai dan membenci semau hatinya tanpa interferensi orang yang menawannya. Bahkan, kadang dia membenci dan kadang mencintai musuh-musuhnya.

Adapun tawanan hawa nafsu diperlakukan secara jauh lebih kejam. Karena, hawa nafsu mampu menembus indera, akal dan hati seseorang. la bisa melakukan campur-tangan dan memaksakan dominasinya rerhadap totalitas manusia. Maka. manusia melihat segala sesuatu sesuai dengan kehendaknya; jelek menjadi indah dan indah menjadi jelek atau baik menjadi buruk dan buruk menjadi baik.

Di sini, hawa nafsu merubah penalaran, pemikiran, pemahaman dan pengetahuan manusia tentang kebenaran. Akhirnya. ia menjorok niasuk ke dalam hati seorang dan merubah cinta menjadi benci menurut apa yang dikehendakmya. Selanjutnya manusia akan mencintai musuh-musuh Allah yang seharusnya dia benci dan membenci wali-wali Allah yang seharusnya dia cintai. Lebih-lebih, hawa nafsu bisa menembus dhamir manusia; benteng pertahanan akhir dalam melawan hawa nafsu. Lalu ia mencerabutnya. Setelah itu semua, manusia hidup tanpa kekebalan dalam menghadapi setiap serangan hawa nafsu, setan dan tagut.

Analogi di atas sebenarnya telah dijelaskan nash berikut ini. Diriwayatkan oleh Al-A^midi dalam kitab Ghurarul Hikam dari Amiril Mukminin Ali as:"Hamba syahwat lebih hina claripada hamba perbudakan.”[62]

Kedua bentuk perbudakan ini sama-sama menghmakan, mengeksploitasi dan mencekik, tapi yang dialami hamba perbudakan sangat ringan bebannya daripada yang dialami hamba hawa nafsu.




Tawanan Hawa Nafsu dalam Nash-nash Keislaman

Mari kita renungkan ayat berikut ini, agar kita mengetahui betapa ketatnya penawanan hawa nafsu terhadap totalitas manusia.

Allah SVVT berfirman: "Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesuduh Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?' Q.S. Al-Jâtsiah 23.

Demikianlah Allah mencabut pendengaran, penglihatan dan hati manusia, maka Hia berubah menjadi yes-man; tidak mempunyai prinsip. Dia limpahkan segala urusannya kepada hawa nafsu yang telah menjadi tuhannya. Ini ialah puncak ketaatan manusia terhadap hawa nafsu.

Imam Ali as diriwayatkan pernah berkata: "Siapa yangg menguasai hawa nafsunya, urusannya akan jaya. Dan siapa yang dikuasai hawa nafsunya, derajatnya okan hina.”[63]

Imam Ali as berkata: "Binasalah diri seorang yang dikuasai syahwatnya dan diperbudak kerakusannya."[64]

Imam Ali as juga pernah berkata demikian: "Penyembah syahwat adalah tawanan yang tidak akan merdeka."[65]

Imam Ali as berkata: "Berapa banyak akal yang menjadi tawanan pada hawa nafsu yang berkuasa."[66]

Dari Imam Ali as: "Hawa nafsu selalu memperbudak orang-orang bodoh.”[67]

Ini merupakan ungkapan yang jeli. Sebab orang bodoh yang terseret di belakang syahwat akan mudah keluar dari kerajaan jiwanya dan terperangkap jerat halus syahwat.

Kemudian -secara oportunistik- hawa nafsu menunggangi kebodohan untuk menyeret akal, irâdah dan hati ke dalam tampuk kekuasaannya. Semua itu dilakukan secara tersembunyi dan samar-samar, mirip tindak pencurian manusia.




Perbudakan Hawa Nafsu atas Manusia

Derajat dominasi hawa nafsu ini akan menjurus pada penghambaan manusia kepadanya. Penguasaan yang dipaksakan hawa nafsu atas manusia merupakan bentuk penghambaan.

Untuk lebih jelasnya, mari kita renungkan firman Allah di bawah ini:

"Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesuduh Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?' Q.S. Al-Jâtsiah 23.

Dan firman Allah SWT berbunyi: "Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat mienjadi pemelihara atasnya?" Q.S. Al-Furqân 43.

Bukan alang-kepalang, memang ada manusia yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan yang dia sembah dan dia taati sebagai ganti dari Allah SWT.

Rasulullah SAWW pernah bersabda: "Tiada tuhan yang disembah selain Allah lebih besar di sisi Allah (dosanya) daripada hawa nafsu yang diikuti."[68]

Imam Ali as diriwayatkan pernah berkata: "Orang bodoh adalah hamba syahwatnya."[69]




Mereka Melupakan Allah dan Diapun Melupakan Mereka

Jika manusia sampai pada keadaan di mana dia terdis-integrasi dari poros 'ubudiayah dan ketaatan Ilahi dan masuk ke poros penuhanan hawa nafsu, maka dia mengalami kemurtadan yang mutlak.

Suatu hal yang pantas untuk disematkan kepada mereka adalah firman Allah: "Mereka melalaikan Allah, maka Kami (Allah) melalaikan mereka."Q.S. At-Taubah 67.

Pada saat seorang keluar dari ‘ubudiyyah Ilahi kepada penuhanan hawa nafsu, Allah melupakan mereka. Setelah itu, dia menjadi bulan-bulanan dan mangsa setan.




Penjelasan Alquran Tentang Peran Destruktif Hawa Nafsu

Allah memutar ulang ceiita Bal'am bin Ba'urah dalarn surah Al-A'raf: "Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuaan tentang isi Al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai ia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia (lebih) cenderung ke bumi dan menuruti hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing. Jika kamu menghalaunya, diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya, diulurkannya lidalmya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir." Q.S. Al-A'râf 175-176.

Konon Bal'am bin Ba’urah adalah cendikiavvan Bani Israil yang telah dianugrahi oleh Allah beberapa ayat yang jelas dan diberikannya pula ilmu dan makrifat serta dikarunia doa yang mujarab.

Musa bin Imran as pernah memohon bantuan kepadanya dalam urusan-urusannya, namun Bal'am mengikuti hawa nafsunya.

Seorang yang 'mengikuti hawa nafsu', seperti cerita tersebut, bisa terjadi dalam dua bentuk di bawah ini:

1. Menggunakan ilmu untuk meraih tujuan-tujuan pribadi dan berusaha mendapatkan kebanggaan dan nama baik di hadapan manusia.

2. Menggtmakan ilmu untuk mendukung tagut demi rnendapatkan upah.

Dalam kedua bentuk ini salah satunya adalah hawa nafsu yang mengusai ilmunya.

Sebenarnya, orang berilmu bukan dipandang dari banyaknya ilmu yang dimiliki (kuantitas). Karena perpustakaan justru lebih banyak memuat ilmu ketimbang kebanyakan ulama. Tetapi, nilai ilmu dilihat dari siapa yang membawa dan bagaimana menggunakannya.

Jika pengemban ilmu adalah orang yang berakhlak baik, seperti akhlak para Nabi, atau ilmunya difungsikan untuk memberi hidayah dan khidmat, maka dia adalah orang alim yang sejati. Kalau tidak, maka kealimannya tidak akan bernilai apa-apa.

Dalam khutbah Syiqsyiqiyyah, Imam Ali bertutur tentang peran orang alim dan tanggung-jawabnya. Demikian tuturnya: "Allah tidak menentukan ulama untuk bertindak seperti orang zalim yang kekenyangan atau orang teraniaya yang kelaparan."

Orang alim yang bangkit melaksanakan ketenluan Allah, akan diangkat derajat, nilai dan kehormatannya setinggi-tingginya.

Menurut narasi dalam sebuah kitab tafsir, Bal'am bin Ba’urah adalah orang yang hawa nafsunya menguasai ilmunya. Maka marilah kita melihat akibat apa yang diperolehnya seperti yang terdapat dalam ayat tadi.

Ayat tadi, meski bercerita tentang Bal'am bin Ba’urah -kalau riwayat itu sahih-, namun hukumnya berlaku pada semua manusia yang hawa nafsunya menguasai dirmya sendiri.

Imam Al-Bâqir as bertutur: "Asalnya, hukiman iti ditujukan kepada Bal'am bin Ba’urah. Kemudian, Allah menggunakannya sebagai perumpamaan akibat bagi setiap manusia - dari kalangan ahli Kiblat - yang mengutamakan hawa nafsunya di atas perintah Allah."[70]

Marilah kita renungkan beberapa akibat yang dialami orang yang telah mengikuti hawa nafsu sebagaimana yang diceritakan Alquran dalam beberapa simpulan berikut ini.



1. Tendensi Berkekulan di Bumi

Tenclensi ini ialah keterpurukan manusia kepada kehidupan duniawi. Karena bumi adalah dunia, maka tendensi berkekalan ke bumi berlawanan dengan kenaikan dan transendensi manusia darinya.

Allah herfirman: "Dan kalau Kami menghendaki, sesunggnhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia (lebih) cenderung ke bumi dan menuruti hawa nafsunya yang rendah...".

Ayat ini menunjukkan pengertian keterjerumusan ke dunia. Apabila pengangkatan diri manusia dari bumi (transendensi) mendapat penawanan yang luar biasa dari "gravitasi" bumi, maka berkekalan di dalamnya adalah "hukum alam" (yang tentunya sangat mudah dilakukan – Peny.). Dengan demikian, mengangkat diri dari al-hayah ad-dunya dan keterjerumusan di dalamnya merupakan suatu perlawanan yang luar biasa beratnya.

Mengangkat diri dari dunia adalah perkara yang amat sukar, sedangkan tunduk pada dunia adalah perkara menerima daya-tarik dan rayuan dunia.



2. Melepaskun Diri dari Ayat-Ayat Allah

Maksud dari melepaskan diri dari ayat-ayat Allah adalah melepaskan diri dari kesadaran dan pengetahuan tentang ayat-ayat Allah. Disamping juga berarti melepaskan diri dari hikmah, makrifat dan bashîrah. "Keterlepasan" (insilâkh) ialah lawan dari "kelengketan" (iltishâq). Dengan kata lain, keterlepasan adalah keterpisahan yang sempurna antara dua hal.

Oleh sebab itu, manusia yang hawa nafsunya adalah hakim dirinya, sama-sekali tidak terkait dengan kesadaran dan bashîrah pada ayat-ayat Allah. Akibatnya, wadah-wadah dalam jiwa mereka akan menolak ilmu dan hikmah, seperti perut yang sakit menolak makanan yang lezat.

Ketika wadah jiwa seorang telah dipenuhi dengan hawa nafsu, maka ia akan menolak ayat-ayat Allah, makrifat, bashîrah, hikmah dan beragam keutamaan lainnya.

Rasulullah SAWW bersabda: "Hati yang telah dipenuhi oleh berbagai syahwat, tidah akan bisa menerima sifat wara".[71]

Rasulullah SAWW bersabda juga: "Hati yang telah diperdayai oleh syahwat, tidah akan bertempat di malakût as-samâ' (kemaharajaan langit)."[72]

Imam Ali as berkata: "Hati yang dibelenggu syahwat tidak akan dapat memanfaatkan hikmah."[73]

Hati adalah tempat yang tidak mungkin akan berkumpul di dalamnya hawa nafsu dan dzikrulah secara berbarengan.

Allah SWT berfirman: "Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam satu rongganya..." Q.S. Al-Ahzâb 4.

Jadi, bila manusia mengikuti hawa nafsu, dia pasti lupa terhadap dzikrullah. Sebaliknya pun demikian.

Allah SWT berfirman: "...dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas." Q.S. Al-Kahfi 28.



3. Penguasaan Setan atas Budak Hawa Nafsu

Allah SWT berfirman: "Setan membuntutinya (sampai tergoda)." Maksudnya setan benar-benar akan memperdaya manusia semampunya. Mengikuti hawa nafsu berarti memperkuat daya-cengkeram setan atas manusia. Dengan perkataan lain, lebih sering seorang mengikuti hawa nafsu, lebih besar peluang dan kemampuan setan untuk menguasai manusia.



4. Kesesatan dan Penyimpangan

Allah SWT berfirman: " ... maka ia termasuk orang-orang yang sesat." lni adalah konsekuensi logis bagi mereka. Karena orang yang mengikuti hawa nafsu pasti akan lalai terhadap dzikrullah dan setan pun mengusainya. Maka ia tidak mungkin mendapatkan petunjuk ke jalan yang benar dan hidupnya pun tidak akan lurus. Seluruh hidup dan sepak-terjangnya selalu dalam kebingungan dan kesesatan.



5. Kerakusan


Allah berfirman: "... maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya, diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya, dia mengulurkan lidahnya (juga)...".

Inilah penyakit yang dikenal dengan nama "anjing gila". Penyakit ini berupa rasa haus yang tidak dapat terpuaskan. Dihardik atau dibiarkan, anjing dalam keadaan seperti ini akan terus menjulur-julurkan lidahnya.

Demikian juga orang yang mengikuti hawa nafsu. Dia akan selalu merasakan haus terhadap dunia, segala keindahan dan harta benda duniawi bahkan dengan kesemuannya itu pun tidak akan memuaskannya baik diwaktu kaya mau pun miskin. Sebagaimana anjing gila yangselalu menjulurkan lidahnya, baik ketika ada air atau tidak, bahkan ia tidak merasa puas dengan minum air.

Rasulullah SAWW bersabda: "Bilamana anak cucu Adam mempunyai dua lembah emas, niscaya dia mengharapkan yang ketiganya."[74]

Ketika menjawab pertanyaan orang yang mengeluhkan kerakusannya kepada dunia, Imam Shâdiq as berkata: "Jika sesuatu yang mencukupimu itu memuaskanmu, maka yang sedikit saja sudah mengayakaumu. Jika sesuatu yang mencukupimu itu tidak juga memuaskanmu, maka semua apa yang ada di dunia ini tidak akan memuaskanmu."[75]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar